12 Juli 2011

Wanita Dari Kaki Kaukasus

2 comments
"Love is about give and give, not take and give."

Demikian Rizaru memberi masukan kepadaku, saat aku bercerita tentang hubunganku dan Nika. Malam ini, kami beristirahat di sebuah warung kopi setelah hari panjang yang melelahkan dalam perjalanan Lhokseumawe - Tembilahan yang tanpa tujuan tempat, dengan jip tua yang masih tangguh milik ayah Rizaru. Tujuan perjalanan kami adalah untuk dapat menemukan tujuan itu.

Namaku Anadi, seorang sarjana farmasi yang sedang berusaha mengenal Indonesia secara utuh dan mencari ruang untuk membangun negeri , ruang dimana tidak ada kemunafikan dan slogan - slogan indah tanpa realisasi di dalamnya. Menuruti kata Bung Hatta, tempat dimana tanah air bisa dibangun dengan amalku.

Aku dan Rizaru adalah sahabat sejak kuliah. Latar belakang dan sifat yang jauh berbeda justru menjadi pelengkap kami satu sama lain dalam membangun diri. Rizaru lebih bijak daripada aku dalam hal cinta terhadap satu orang, sementara aku sedikit lebih mampu berbagi tentang kebijaksanaan dalam mencintai orang banyak. Kami saling bertukar pengetahuan dan kebijaksanaan.

Malam ini, aku bercerita tentang cinta yang terpaksa harus ku akhiri hanya karena orang tua Nika tidak setuju dengan hubungan kami atas alasan perbedaan ras dan suku bangsa. Aku seorang laki - laki dari Pegunungan Bukit Barisan, sedangkan Nika adalah wanita dari Pegunungan Kaukasus. Padahal orang - orang tua kami sama - sama berasal dari pegunungan, menganut budaya orang gunung. Juga terlahir di atas satu lempeng tektonik yang sama dimana kedua pegunungan itu terbentang, Eurasia.

Nika Muhammedovna Sergeieva, demikian nama lengkapnya. Putri seorang duta besar Rusia untuk Indonesia. Sungguh suatu kejadian langka dalam hidupku bertemu dengan wanita dari keluarga terpandang, yang juga beragama Islam dari negeri komunis terbesar. Meski saat ini pemerintah Rusia memang telah memberikan hak dan kebebasan penduduknya untuk memeluk agama dan beribadah, Muslim masihlah minoritas, apalagi menjadi pejabat dalam pemerintahannya.

Aku bertemu dengannya di sebuah kafe di Jogja, pada suatu pagi, saat aku singgah di kota itu untuk beberapa hari dalam 'perjalanan pencarian ruang' yang lain. Kami berkenalan dengan bahasa Inggris. Dari kalimat - kalimat awalnya aku sudah bisa menebak bahwa dia berasal dari Eropa Utara. Logat Rusia-nya yang kental menjadi suatu hal yang terdengar menarik di telinga. Tiga bulan berinteraksi, membuat kami menyadari bahwa kami telah saling jatuh hati.

Cinta memang bahasa universal. Kita tak perlu mempelajari bahasa asing untuk memahaminya.

Musik yang sering disebut sebagai bahasa universal, sebenarnya masih pula tak mampu membuat semua manusia saling memahami. Orang tuli tak bisa merasakan keindahan musik. Sementara itu, orang - orang pun masih sering bertikai dan saling hina hanya karena mereka menyukai genre musik yang berbeda. Sedangkan cinta dapat dirasakan, dipahami, dan diberikan oleh orang tuli, buta, cacat, autis, orang yang sedang sekarat dan koma di pembaringan, seorang ibu kepada anaknya yang masih dalam kandungan, dan bahkan seorang manusia hidup kepada manusia lainnya yang telah mati. Bersyukurlah kita manusia, telah diciptakan Tuhan dengan dan karena cinta.

Minggu lalu, Nika pulang ke negaranya. Dia berkata bahwa dia mau saja lari meninggalkan keluarganya dan pergi denganku.

"Tapi bukan itu yang diajarkan agama kita, Nika. Pernikahan adalah ikatan suci, pemersatu dua keluarga, bukan justru sebagai pemecahnya," ujarku.

Dia menganggukkan kepala dalam tangisan. Baru kali ini aku menyaksikan langsung seorang bule menangis. Tangis adalah memang milik semua manusia sebagai salah satu ekspresi perasaan. Sebeda apapun, semua manusia bisa menangis dalam keadaan tertentu.

Aku bercerita tentang hal ini kepada Rizaru, menyesali bahwa aku tak dapat memiliki Nika. Rizaru tersenyum, dan mengingatkan padaku tentang keikhlasan. Bahwa cinta itu adalah memberi dan memberi, tidaklah mengharap balasan sedikit pun. Cinta disini dalam artian yang umum. Kepada siapapun, haruslah disertai keikhlasan.

Pada kesempatan ini, aku menelusuri Bukit Barisan. Kelak akan aku susuri pula Kaukasus. Aku hanya ingin kembali untuk dapat mencintai orang banyak, juga dapat berguna bagi kelestarian mahluk hidup di planet bumi ini. Dengan meminjam kata - kata dari seorang temanku juga, Poejana,

"Cinta saya adalah untuk Tuhan dan semua mahluk."



Dani Andipa Keliat
12 Juli 2011
*Semua tokoh dan cerita adalah fiktif belaka. Segala kesamaan dengan kejadian sebenarnya adalah suatu kebetulan yang di luar kesengajaan.




2 komentar: