05 Juli 2011

Kereta Api Ekonomi Punya Cerita

0 comments
Banyak hal yang dapat kita perhatikan dan pelajari dengan menjadi rakyat dari negeri yang disebut kereta api ekonomi. Kendaraan ini membawa berbagai macam jenis pribadi manusia di dalamnya. Mulai dari pribadi individualistis yang hanya berpikiran "Asal saya dapat duduk dan tidur dengan nyaman" tanpa memikirkan orang yang sebenarnya lebih membutuhkan kursi, sampai pribadi yang sangat ramah dan murah hati dapat kita temukan di kereta api ekonomi.

Aku telah beberapa kali menumpang kendaraan rakyat ini. Tapi selalu saja dapat pelajaran yang baru tiap kali di dalamnya.

Saat kereta penuh, seringkali mental 'memberi' kita diuji. Baru - baru ini, kami merasakan seperti berada dalam kereta yang membawa para pengungsi perang, dengan kami sebagai penjaga mereka. Ya, utamakanlah keselamatan wanita, anak - anak, dan para manula. Kami mesti rela berdiri berjam-jam, dari pagi hingga sore, sampai otot - otot kaki terasa seperti ditimpa beban berat dan ditusuk - tusuk jarum. Hari itu aku kira, kami lah pemenangnya. Kami lah para pejuang perang yang berhasil mengalahkan diri kami sendiri.

Pada kereta api ekonomi ini, cukup banyak uang yang berputar. Para pedagang asongan yang selalu mondar - mandir di tengah padat - sesaknya kereta, dan selalu bertambah jumlahnya tiap kali kereta berhenti di stasiun selanjutnya, dengan para penumpang kereta adalah pelaku ekonomi. Inilah pasar pada kecepatan tinggi. Masyarakat melakukan tawar - menawar di sini, berkomunikasi lisan, dan saling memenuhi kebutuhan.

Fenomena budaya Indonesia pun begitu terasa di sini. Logat bahasa pedagang yang berubah seiring kereta semakin jauh dari tempat kami berasal, tata cara menawarkan dagangan yang berbeda, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang - orang yang memperhatikan. Di kereta ini, masih kami temukan ibu - ibu yang menyimpan dompet di dadanya. Masih pula kami temukan orang tua bijak dengan sejuta pengalaman yang sudi berbagi cerita dengan kami, anak muda yang baru saja dikenalnya. Ternyata budaya komunikasi lisan yang penuh keakraban dan kekeluargaan itu tak sepenuhnya hilang dari masyarakat modern. Hanya saja kita memang mesti pandai mengatur waktu dan sikap untuk kapan menggunakan teknologi SMS, instant messenger, social network, dan kapan pula harus meninggalkannya untuk berbicara dari hati ke hati menggunakan alat ciptaan Tuhan yang jauh lebih canggih, lisan. Manusia memang harus saling mengenal.

Namun, kereta ini telah hampir melewati kapasitas angkutnya. Penuh sesaknya manusia di dalam kereta adalah suatu cerminan bahwa ada masalah di sini. Apakah sistem pengaturan penumpang kereta belum benar? Apakah peraturan yang diterapkan belum ketat dan dihormati penumpang / calon penumpang? Apakah sarana - prasarana angkutan kereta api tidak memadai? Apakah armada kereta api kurang? Mestikah ditambah jalur dan rel kereta lagi? Siapakah yang mesti disalahkan, pemerintah karena tak mampu menerapkan solusi berupa peraturan maupun sarana atau rakyat karena mereka miskin?
Entahlah. Semoga Tuhan merahmati dan memberi petunjuk-Nya kepada kita semua, agar mampu menyelesaikan masalah ini dengan bijak dan sesegera mungkin melalui peran kita masing-masing.

Sumber gambar : pelesa.blogspot.com
 
Dani Andipa Keliat
5 Juli 2011




Tidak ada komentar:

Posting Komentar