29 Juni 2011

Cimanuk, Sang Penasehat

0 comments


Hydraulic Sungai Cimanuk, Garut
Hydraulic Sungai Cimanuk, Garut



Cimanuk, sebuah sungai yang terletak di Garut. Sungai yang berwarna coklat keruh akibat erosi yang dibawa air sejak dari bagian hulu sungai ini, juga karena perilaku manusia yang tak memelihara keasrian lingkungannya. Sungai yang penuh jeram, mulai dari yang kecil hingga jeram - jeram besar dan sangat berbahaya.

Dulu, saat Belanda masih menjajah negeri ini, mereka menerapkan peraturan tegas bahwa rumah yang dibangun dekat dengan sungai tidak boleh menempatkan dapurnya dekat dengan sungai. Mengapa? Karena bila bagian belakang rumah berada pada pinggir sungai, kecenderungan orang secara psikologis untuk membuang sampah dan mencemari sungai lebih besar, dibandingkan jika bagian depan rumah menghadap sungai. Secara naluri, pasti orang tak ingin halaman depan rumahnya, yang merupakan jalan masuk bagi penghuni rumah dan juga tamu, kotor. Namun setelah Indonesia merdeka, pemerintah tidak menerapkan peraturan itu. Sehingga hari ini, Cimanuk kotor dan sangat keruh.

Bagian sungai Cimanuk yang biasa kami gunakan untuk berarung jeram adalah mulai dari Padarek sampai RS Garut atau sering disebut Cimanuk 0 atau Cimanuk Atas, lalu mulai dari Jager sampai Leuwi Goong atau sering disebut Cimanuk 1, kemudian mulai dari Leuwi Goong sampai Kopeng yang biasa disebut Cimanuk 2 atau Jalur Bawah. Pada masing - masing bagian sungai ini mempunyai tingkat kesulitan (grade) yang bervariasi, mulai dari jeram grade II sampai grade V dapat kita temukan di sini.

Sungai ini memiliki air yang berwarna coklat keruh. Debit airnya yang sangat bervariasi dan labil tergantung curah hujan adalah tanda bahwa sungai ini telah semakin kekurangan tumbuhan yang menjaga air tanah di sepanjang alirannya, meski airnya bersumber pada gunung Papandayan.

Kesekian kalinya aku belajar pada Cimanuk, sampai lupa sudah berapa kali berarung jeram di sungai ini. Puluhan sudah. Bagi kami, sungai ini seperti seorang Ayah yang menasehati anaknya, saat sang anak telah congkak dalam bertindak. Sungai yang memiliki jeram - jeram dengan grade dan fisik yang lengkap untuk belajar ini telah banyak mengajarkan kami makna perjuangan, penaklukan diri sendiri, keputusan, dan persahabatan.

Cimanuk, sang Penasehat, kini telah semakin tua. Banyak hal yang telah berubah dari fisiknya dibandingkan dengan empat tahun lalu saat kami pertama kali berguru padanya. Mungkin seiring kami yang juga semakin tua, sehingga aku memandang sobat tua ini juga begitu bertambah tua. Juga kini kami, murid - murid Cimanuk, telah cukup jauh menjelajah darinya. Telah cukup banyak berguru pada sungai - sungai lain.

Aku masih ingat lagi, ketika kami bercanda dan tertawa oleh pembicaraan yang seringkali tidak penting di pinggir sungai ini, sambil makan satu bungkus biskuit dan minum seteguk-dua teguk air mineral saat beristirahat kala pengarungan. Aku juga masih ingat momen dimana kami merasakan pengalaman para Wali Songo saat menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan sholat di atas batu di tengah atau pinggir sungai ini. Aku masih ingat pula, saat terbaliknya perahu masih merupakan kejadian yang luar biasa. Benar - benar pengalaman yang tak semua orang dapat merasakannya.

Dan kini aku dan teman-teman seperjuanganku, Yasir - Jekim - Yosay - Kibo - Ramjeng, tak terasa pula akan segera memasuki dunia baru. Tanggung jawab besar sebagai seorang sarjana. Dan sarjana ini telah banyak berguru dan dinasehati oleh Cimanuk. Pemikiran dan tindakan kami sedikit banyak dibesarkan pula olehnya.

Suatu saat nanti, kita mesti niatkan kembali sejenak kepada Cimanuk. Kembali pada masyarakatnya. Semoga sungai ini, akan kembali indah dan asri. Semoga dengan kembalinya kita, masyarakat di sekitar sungai ini menjadi masyarakat yang makmur dan sangat menjaga sungai ini.

Terima kasih Cimanuk. Terima kasih Pak Yana, Koko, Baim. Terima kasih teman - teman.

 
 


Dani Andipa Keliat
29 Juni 2011




Tidak ada komentar:

Posting Komentar