28 Juni 2011

Pekalen, Sang Penyejuk

0 comments



***
"Well, this is one of God's heaven on earth."


Itulah kata - kata yang terucap saat aku melihat sungai Pekalen. Sungai yang sangat indah, sangat bersih dan jernih. Sungai ini, menjadi salah satu tempat kami berguru pada alam bebas pada selama dua hari yang lalu.

Sungai Pekalen terletak di desa Pesawahan, Probolinggo, Jawa Timur. Dari Bandung, kami kesana naik kereta dengan terlebih dahulu ke Surabaya.

Kamis sore (23 Juni 2011), Aku dan Yana berangkat dari sekretariat Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam Ganesha ITB (KMPA Ganesha ITB) pukul 17.00 WIB ke stasiun Hall. Kami lalu naik kereta KRD ke Padalarang. Di Padalarang, kami naik kereta ekonomi Kahuripan dengan tujuan Kediri. Di sana kami bertemu dengan teman kami yang juga ingin ikut, Riki dan Anto. Keduanya merupakan anggota Palawa, organisasi pecinta alam dari Universitas Padjadjaran.

Kereta Kahuripan berangkat dari Padalarang pukul 20.00 WIB. Kereta ini telah penuh sejak awal keberangkatan di stasiun pertama ini. Kami tidak mendapatkan kursi, tiket dengan kursi telah habis terjual, sehingga kami pun berdiri di gerbong penumpang paling belakang, meski di belakang gerbong ini masih ada gerbong lain yang gelap dan tanpa kursi. Sesaat kemudian kereta tiba di stasiun berikutnya, Kiara Condong. Di stasiun ini penumpang yang naik juga sangat banyak menambah sesaknya kereta. Petugas kereta lantas menginstruksikan kami untuk membuka gerbong yang gelap dan tanpa kursi itu, sehingga kami dapat duduk lesehan dan tidur disitu. Di stasiun Leles, Emil naik kereta yang sama setelah sebelumnya dia survey sungai ke Tasikmalaya. Kami melanjutkan perjalanan dengan kereta ini sampai di Kertosono.

Kami turun di stasiun Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Kami shalat Jumat dan makan sambil menunggu kereta berikutnya yang berangkat pukul 13.00 WIB menuju stasiun Wonokromo, Surabaya. Sesaat aku bertemu dengan penduduknya, orang - orang yang memiliki bahasa daerah dan budaya yang berbeda dengan orang - orang yang selama ini aku temui di Jawa Barat. Kesan pertamaku, mereka adalah penduduk yang ramah. Tukang becak yang menawarkan kami jasa angkutan becak lantas langsung berbicara banyak dengan ramah dan menunjukkan jalan ke mesjid saat kami berkata bahwa kami ingin melaksanakan shalat Jumat.

Perjalanan ke tempat yang belum kita kenal dan ketahui sebelumnya memang menarik. Memperhatikan masyarakat yang memiliki kebiasaan dan budaya yang berbeda dengan tempat kita tinggal adalah suatu pelajaran tersendiri buatku. Di kereta ekonomi pun bahkan kita dapat menemukan fenomena kultural yang menarik. Seperti logat bahasa pedagang asongan yang menawarkan dagangannya, mulai dari daerah Jawa Barat, minuman isotonik Mizone (tanpa bermaksud mempromosikan merek tertentu) disebut 'mijon' oleh pedagang, namun begitu memasuki daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta berubah menjadi 'mison', lalu kemudian menjadi 'mizon' setelah kereta berada di daerah Jawa Timur. Sikap yang diperlihatkan oleh pedagang pun berbeda antar daerah jika kita memperhatikan dengan seksama. Pedagang di daerah Jawa Barat sangat sabar dalam menawarkan dagangannya dengan memanggil penumpang pria dengan sebutan 'Aa' dan penumpang wanita 'Teteh'. Pedagang di daerah Jawa Tengah sangat halus dalam bertutur kata. Kita dapat tahu bahwa kita sedang berada di daerah Jawa Timur tanpa melihat papan tulisan stasiun tempat kereta sedang singgah, dari pedagangnya yang dengan logat Jawa yang lebih cepat dan tegas daripada tempat - tempat sebelumnya dan dengan ada sedikit kesan 'memaksa' dalam menawarkan barang dagangannya, entah itu dengan meletakkan barang dagangannya langsung di atas paha penumpang, melihat ke penumpang lebih lama sambil berucap beberapa kali tentang dagangannya, bahkan sedikit mengomel ketika penumpang yang ditawarkan tak mengindahkan sama sekali. Menarik sekali fenomena ini.

Dari stasiun Kertosono kami naik kereta sampai stasiun Wonokromo. Di stasiun ini kami telah ditunggu oleh Mas Tapir dan Mas Santok, dua anggota tim kreatif dan manajemen Noars, operator arung jeram sungai Pekalen yang berbaik hati mengundang kami bermain di Sungai Pekalen. Mereka lalu membawa kami ke kantor pusat Noars di Jalan Adityawarman, Surabaya. Dari sana, kami berangkat naik mobil ke desa Pesawahan, Probolinggo, malam pukul 22.00 WIB (24 Juni 2011) hingga tiba di base camp Noars di desa Pesawahan pada pukul 2.30 (25 Juni 2011).

Hari itu, tanggal 25 Juni 2011, kami menghabiskan waktu sejak pagi hingga sore di air. Pagi sejak pukul 9.00 WIB kami berarung jeram dengan perahu karet hingga sekitar pukul 12.00. Lalu sejak pukul 14.00 WIB, kami bermain riverboard dengan ditemani dan dilatih langsung oleh atlet riverboard Noars, Mas Tapir, hingga sore pukul 17.00 WIB.

Pekalen, sungai dengan air yang berasal gunung Lamongan dan Argopuro ini memang sungai yang sangat indah. Sungai terindah yang pertama kali aku temukan sejak aku mulai aktif berarung jeram. Airnya sangat jernih dan bersih. Pemandangan sekitar sungainya sangat indah dan asri.

Kami mulai berarung jeram pada titik start yang langsung disambut oleh Jeram Selamat Datang yang indah, sekaligus sulit dan berbahaya. Ya, sangat berbahaya. Jeram ini diiringi undercut yang cukup panjang di pinggir sungainya! Sehingga kita benar - benar mesti masuk jeram pada posisi yang benar dan menghindar agar jangan sampai terjepit pada mulut undercut-nya.

Jeram - jeram selanjutnya yang aku lupa nama - namanya, adalah jeram - jeram yang ekstrem. Ada yang berkelok - kelok, ada yang kemungkinan terjebaknya (wrapped) tinggi, ada yang jatuh (drop) tinggi, dan ada jeram yang sempit namun sangat deras. Semua jeram - jeram berbahaya ini ditemani pemandangan yang sangat indah. Tebing - tebing indah menutupi pada hampir sepanjang bagian sungai yang kami arungi. Goa - goa dengan air terjun yang banyak kelelawarnya, bahkan ada salah satu goa yang menurut penduduk sekitar terdapat ular besar di dalamnya. Air terjun - air terjun yang mengalir dan jatuh dari tebing - tebing basah dengan tumbuhan keladi serta tumbuhan - tumbuhan perdu dan merambat di atasnya. Sangat indah.

 

Dan yang paling indah dari semua adalah air terjun besar yang kami lewati dengan perahu di bawahnya. Pada dinding - dinding sekitar air terjun ini dipenuhi oleh kelelawar yang jumlahnya ribuan, seperti sebuah kerajaan besar yang bau. Ya, bau. Bau khas guano, atau kotoran kelelawar memang sedikit mengganggu, tapi tidak merusak suasana dan ketakjuban atas keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa ini, Sungai Pekalen.

 
 
 
 

Sungai ini memang istimewa. Bisa dikatakan masih perawan, jauh dari perusakan tangan - tangan jahil. Penduduk sekitar menjaganya dengan baik. Mereka tidak buang sampah kesini. Memang sebagian menggunakannya untuk mandi. Tapi hanya mandi, tidak untuk yang lain yang dapat mencemarinya. Penduduk masih menggunakan air sungai ini untuk minum.

Keesokan harinya (26 Juni 2011), kami juga berarung jeram pada jalur yang sama untuk sekedar melengkapi foto - foto dan rasa belum puas akan keindahan sungai Pekalen. Pada hari ini, debit air sungai relatif lebih besar dibanding hari sebelumnya. Kami berarung jeram hingga pukul 11.30 WIB. Sekitar pukul 13.15 WIB kami berangkat, kembali ke kota Surabaya. Hingga esok pagi pukul 4.30 WIB, kami berangkat ke stasiun Gubeng, Surabaya, untuk kemudian pulang kembali ke Bandung.

Sungai Pekalen ini memang penyejuk, bagi jiwa - jiwa yang berontak terhadap hiruk - pikuk kota dan kecewa terhadap tindakan destruktif dari sesama manusia  di kota. Di sini kita berkaca tentang tindakan dan perilaku manusia, pada tempat awal peradaban manusia di bangun, sungai. Keindahan ini mesti kita jaga. Bukan untuk monyet, kelelawar, ikan - ikan, atau tumbuhan - tumbuhan hijau yang terbentang di sepanjang alirannya. Tapi untuk kita sendiri. Manusia sendiri lah yang harus kita selamatkan saat kita menyelamatkan lingkungan hidup. Jangan sampai kita dilemparkan lagi keluar dari surga untuk kedua kalinya ke tempat yang lebih buruk. Ya, surga di bumi ini mesti kita lestarikan dan jaga dengan baik.

 
 
 

Dani Andipa Keliat
28 Juni 2011





Tidak ada komentar:

Posting Komentar