24 Juni 2014

Sebuah Keputusan, Sejuta Keikhlasan - Bagian II: Nada

0 comments







Aku teringat udara kota Bandung hari itu terasa dingin sekali, kala Nada mempercepat langkahnya dan meninggalkanku di tengah-tengah koridor kampus. Ia tak menoleh sama sekali. Hari itu menjadi pertemuan terakhir yang kami habiskan berdua.



Empat tahun yang lalu, aku berjabat tangan dengan seorang perempuan bernama Nada, di koridor utama bagian depan kampus.
"Gitar," aku memperkenalkan diri.
"Hai... Nada." sambutnya sambil tersenyum.
Ia cantik, kesanku. Pertemuan hari itu mungkin tak membekas di hatinya atau kah memberi sedikit ingatan untuk dikenang, entahlah. Hari itu ia bersama Melodi, mereka memang bersahabat.

Nada, perempuan yang istimewa. Ia datang pada hari-hari yang kelabu, menjadi teman cerita setiap kali kegundahan muncul. Dia memang indah. Seumpama bunga lili yang tumbuh di tepian sungai kecil, cantik dengan sejuta ketenangan bersamanya bagi jiwa yang gulana.

Entah apa yang mulanya mengakrabkan kami, beberapa waktu setelah pertemuan empat tahun yang lalu. Aku hanya ingat, ia yang lebih dulu membuka diri untuk bercerita permasalahan hatinya kepadaku. Begitu terbuka. Kemudian aku menjadi terbiasa pula bercerita kepadanya, terlebih tentang Melodi.

Nada sosok yang ceria. Ia pula beberapa kali ia menunjukkan kesamaan denganku dalam kesenangan terhadap beberapa hal. Ia tampak berjiwa sosial, rendah hati, senang beradu argumen secara intelektual, berani mengkritik suatu nilai yang dianggapnya tidak sesuai dengan nurani, tidak suka kepada penghamburan uang berlebihan atas nama gaya hidup -- ia ingin anggun yang sederhana, sederhana yang anggun, -- ia juga bercerita bahwa ia ingin mencoba naik gunung dan berpetualang ke pelosok-pelosok negeri. Sungguh karakter yang penuh pesona.

Suatu malam Nada sakit, ia meneleponku untuk membelikannya makanan. Aku langsung bergegas, berangkat dengan motor butut yang aku pinjam dari seorang teman, membelikan roti, susu, dan buah-buahan. Aku lantas menemuinya di depan pagar kosnya. Ia tampak sangat lesu. Malam itu, sebelum pergi aku berkata,
"Telpon saja aku, kapan pun kamu butuh bantuan."
Kami menjadi begitu dekat.

Namun kedekatan itu seolah aku sia-siakan. Ya, aku selalu menyinggung nama Melodi setiap kali bertemu dengannya. Aku juga tidak mengerti, kenapa. Padahal di kala ia telah bercerita tentang hidupnya, orang-orang berbeda yang berada di sekitarnya, kesenangannya, kesedihannya, rasa sakitnya, bahkan seolah membuka diri untuk berbicara tentang hubungan kami berdua -- aku masih saja berkeluh-kesah tentang Melodi.

Aku memang tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Nada, apa yang diinginkannya. Aku pula tidak mau terlalu berbesar kepala dengan beranggapan bahwa ia memiliki rasa kepadaku. Tetapi hari ini, setelah ia pergi, ada semacam kesadaran muncul dalam benakku bahwa apa yang aku lakukan saat itu adalah suatu kesalahan. Aku menyesal. Apakah hari ini aku memiliki rasa kepada Nada? Entahlah. Mungkin.

Tidak ada hal yang patut dipersalahkan dalam mencintai atau dicintai, pun adalah hak semua orang untuk boleh menduga dan menerka. Tapi jika dua anak manusia mencintai pada periode waktu yang berbeda, itu menyedihkan.

Hari ini Nada telah bersama orang lain. Aku pula kembali dengan petualanganku. Gunung takkan lari sehingga ia perlu dikejar. Laut takkan kering sehingga ia perlu terus diukur kedalamannya. Biarkan sungai kecil mengalir. Kelak angin pula yang akan menyampaikan pesan. Sampai bertemu kembali bunga lili yang memberi kedamaian.

-Bersambung-


24 Juni 2014
Dani Andipa Keliat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar