Surveytime - Take Online Surveys and Earn USD 1 Instantly

30 April 2020

Teman Baik adalah Pembeli Pertama?

0 comments

"Pembeli pertama produk bisnis Anda adalah teman-teman Anda, karena mereka telah memiliki trust terhadap Anda. Business is about trust. Maka coba lah beritahu teman-teman Anda tentang bisnis Anda."

Seorang motivator bisnis suatu ketika pernah berujar,

"Pembeli pertama produk bisnis Anda adalah teman-teman Anda, karena mereka telah memiliki trust terhadap Anda. Business is about trust. Maka coba lah beritahu teman-teman Anda tentang bisnis Anda."

Benar kah?

Pernyataan tersebut ada benarnya. Banyak pebisnis, khususnya yang merintis bisnisnya dari nol, umumnya pernah merasakan pengalaman bahwa produk mereka pertama kali umumnya dibeli oleh teman baiknya.

Tapi???
Ada 'tapi'-nya?
Mari kita uraikan.

Teman Baik yang Jadi Pembeli Pertama


Banyak faktor yang membuat teman baik membeli produk atau menggunakan jasamu. Tidak sedikit yang "unconditional friendship" atau simpelnya 'gue beli karena lu temen gue, titik'. Tipe mahluk seperti ini adalah manusia dengan kecerdasan sosial yang tinggi. Orang seperti ini, biasanya kalau melihat duri di jalan selalu menyingkirkannya, dan kalau ada nenek tua hendak menyeberang jalan selalu menolong menyeberangkan si nenek. Saya punya teman seperti ini, satu orang. Terhadap orang ini, semoga Allah memudahkan saya untuk siap pasang badan jika dia butuh pertolongan kapan pun.

Faktor lain, membeli dengan niat menolong. Saya punya beberapa teman seperti ini, rasa hormat saya untuk mereka. Terhadap orang-orang seperti ini kita biasanya justru malu untuk memberi tahu tentang produk atau bisnis kita, sebab pasti akan mereka beli dengan niat membantu teman. Justru berat dan sungkan rasanya membebani mereka. Tidak sedikit pelaku UKM yang punya pembeli dari teman-teman dengan karakter ini. Semoga Allah membalas kebaikan orang-orang seperti ini yang ikhlas.

Faktor selanjutnya yang mengkonversi teman menjadi pembeli adalah karena kebutuhan mereka akan produk tersebut, ditambah yang menjual adalah temannya, langsung beli deh.

Mendefinisikan Ulang Pertemanan?


"Tapi produk saya yang saya posting di medsos atau saya WA-in, bahkan sampai berkali-kali, kok nggak ada yang beli ya?" ucap sebagian pelaku UKM.

Dalam suatu kesempatan saya pernah berdiskusi dengan seorang teman, beliau adalah pendiri sebuah marketplace platform untuk produk-produk handmade / craft. Hal menarik yang saya ingat dalam obrolan itu adalah soal redefining of friendship. Teman saya bilang bahwa dia selalu membiasakan untuk mendukung bisnis teman-temannya dengan membeli produk mereka walaupun dia sedang tidak butuh produk tersebut.

"Kalau temen gue nggak beli produk gue, gue bakal define ulang tuh pertemanan kita. Cukup tau aja. Berarti dia bukan beneran temen gue."

Tergantung produknya, memang tidak lah semua orang mampu membeli produk kamu dan pertemanan itu tidak lah sesempit 'kalo lu temen gue, beli jualan gue', tapi untuk hal 'remeh' seperti share postingan, berkomentar, atau bahkan sekedar like untuk apresiasi saja banyak orang yang bersikap abai. Tidak ada salahnya memperlihatkan support kita terhadap bisnisnya, kita tidak pernah tahu betapa hal tersebut membesarkan hatinya.

Ada 3 hal ketika seorang teman tidak mendukung bisnis temannya, yaitu:
pertama, berbeda prinsip terkait bisnis atau produk tersebut. Ini bisa kita mengerti;
kedua, munculnya rasa iri hati;
ketiga, bukan temannya? 

Tidak ada waktu? Tidak mungkin. Renungkan lah kembali.

Seuntai Nasehat untuk Kita Renungkan Bersama


Pada akhirnya, kualitas kepribadian seseorang dapat dilihat bagaimana dia bersikap terhadap orang lain. Saya pribadi mengajak pembaca untuk tidak 'mendefinisikan ulang pertemanan' jika ada pengalaman seperti disebutkan di atas. Manusia memang punya urusannya masing-masing, kita tak mungkin memaksa orang terus-menerus peduli dengan orang lain. Boleh jadi dulu berkawan baik dan berjuang bersama dalam organisasi atau biasa kongkow bareng, meski sekarang ada yang bahkan tak mau membalas pesan saat ditanyakan suatu hal, maka tidak mengapa, mungkin memang tidak sempat atau dia lupa. Ingat lah bahwa kita tak hidup selamanya di dunia ini, untuk apa berlelah-lelah atas hal yang sementara? 

Mari kita renungkan hadits berikut tentang keutamaan orang yang memberi kebahagiaan pada orang lain dan mengangkat kesulitan dari orang lain.

1. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

2. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

3. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Semoga tulisan ini dapat menjadi nasehat bagi saya pribadi, dan bagi pembaca blog ini. Teruntuk para pelaku UKM, meski di masa wabah COVID-19 terasa berat, mari saling menguatkan dan saling mendukung. Mari justru tak melupakan sedekah. Bersedekah di masa sulit memiliki keutamaan tersendiri yang besar ganjarannya dari Allah. Ingat kita tak selamanya di dunia, mari bersama siapkan bekal untuk perjalanan panjang setelah ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Outbound Training Program for Corporate
DomaiNesia